AI Mulai Mengubah Dunia Kerja, Pekerjaan Apa yang Paling Berisiko Tergantikan?

TAKAMEDIA.COM – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membawa perubahan besar terhadap dunia kerja.
Teknologi yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk membantu pekerjaan tertentu kini mampu menulis, menerjemahkan, menganalisis data, membuat gambar, menghasilkan kode program hingga menangani berbagai tugas administratif.
Kemampuan tersebut membuat kekhawatiran mengenai pekerjaan yang dapat tergantikan AI semakin sering muncul.
Namun, perubahan yang terjadi tidak sesederhana manusia digantikan mesin. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dalam banyak kasus AI justru akan mengubah cara sebuah pekerjaan dilakukan, dengan sebagian tugas diotomatisasi sementara manusia tetap dibutuhkan untuk menjalankan fungsi lainnya.
International Labour Organization (ILO) dalam kajiannya mengenai generative AI menemukan sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan tertentu terhadap GenAI.
Meski demikian, ILO menilai transformasi pekerjaan lebih mungkin terjadi dibandingkan penggantian pekerja secara menyeluruh.
Daftar Pekerjaan yang Paling Berisiko Terdampak AI
Berdasarkan karakter pekerjaan yang banyak melibatkan tugas rutin, pengolahan informasi, administrasi dan aktivitas yang dapat diotomatisasi, beberapa pekerjaan berikut termasuk yang berpotensi mengalami perubahan besar akibat AI dan otomatisasi:
- Petugas entri data
Aktivitas memasukkan, memeriksa dan mengelompokkan data semakin mudah dilakukan menggunakan perangkat lunak dan AI. - Juru ketik dan pengolah dokumen
AI sudah mampu menghasilkan, memperbaiki, merangkum dan memformat dokumen secara otomatis. - Sekretaris dan staf administrasi
Penjadwalan, pembuatan surat, pencatatan rapat dan pengelolaan dokumen kini dapat dibantu sistem berbasis AI. - Petugas pembukuan
Pencatatan transaksi, pengelompokan data keuangan dan pembuatan laporan sederhana semakin banyak diotomatisasi. - Kasir
Mesin self-checkout, pembayaran digital dan sistem transaksi otomatis dapat mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah tugas kasir konvensional. - Petugas tiket
Pemesanan tiket melalui aplikasi, mesin mandiri dan sistem digital membuat banyak proses transaksi dapat dilakukan tanpa petugas. - Customer service untuk pertanyaan sederhana
Chatbot dan AI dapat menjawab pertanyaan umum, memberikan informasi produk dan menangani sebagian permintaan pelanggan secara otomatis. - Desainer grafis untuk pekerjaan sederhana
Generative AI mampu membuat ilustrasi, banner, konsep visual dan berbagai materi desain dasar dalam waktu singkat. - Penulis konten rutin
AI mampu membantu membuat deskripsi produk, ringkasan, konten sederhana hingga berbagai bentuk tulisan berbasis pola. - Programmer untuk tugas pemrograman rutin
AI sudah dapat menghasilkan potongan kode, membantu debugging, membuat dokumentasi dan menyelesaikan sejumlah tugas pemrograman sederhana. - Analis data untuk pekerjaan dasar
Pengolahan, pengelompokan dan pembuatan ringkasan dari kumpulan data semakin dapat dibantu oleh AI. - Pekerjaan kantor dengan proses berulang
Berbagai pekerjaan yang sebagian besar kegiatannya mengikuti pola dan prosedur yang sama memiliki peluang lebih besar untuk diotomatisasi.
Daftar tersebut bukan berarti seluruh pekerjaan tersebut akan hilang.
Risiko terbesar justru terjadi pada tugas-tugas rutin di dalam suatu pekerjaan. Pekerja yang mampu menggabungkan pengalaman, kemampuan mengambil keputusan, komunikasi dan penggunaan AI dapat tetap memiliki peran penting.
Pekerjaan Administratif Paling Terpapar AI
Pekerjaan administratif menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak perkembangan AI.
Menurut ILO, pekerjaan clerical atau pekerjaan yang berkaitan dengan administrasi masih memiliki tingkat paparan paling tinggi terhadap generative AI.
Beberapa pekerjaan yang termasuk dalam kelompok dengan paparan tinggi antara lain:
- Petugas entri data
- Juru ketik
- Petugas pembukuan dan akuntansi administratif
- Sekretaris administratif
- Pekerjaan kantor yang banyak menangani dokumen dan data rutin
Hal tersebut terjadi karena sebagian besar aktivitas dalam pekerjaan tersebut memiliki pola yang relatif terstruktur.
Memasukkan data, membuat ringkasan dokumen, menyusun laporan sederhana, mengelompokkan informasi hingga membuat surat administratif kini dapat dibantu atau bahkan dilakukan secara otomatis menggunakan AI.
Kasir dan Petugas Layanan Transaksi Juga Menghadapi Perubahan
Selain pekerjaan administratif, beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan transaksi juga diperkirakan mengalami perubahan.
World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan kasir dan petugas tiket serta sejumlah pekerjaan administratif sebagai kelompok pekerjaan yang diperkirakan mengalami penurunan tercepat menuju 2030.
Perubahan tersebut tidak hanya dipengaruhi AI, tetapi juga digitalisasi layanan, sistem pembayaran otomatis, robotika dan berbagai teknologi lainnya.
Mesin self-checkout, pembayaran digital hingga sistem transaksi otomatis membuat sebagian proses yang sebelumnya membutuhkan petugas dapat dilakukan langsung oleh konsumen.
Meski demikian, kebutuhan pekerja manusia belum tentu hilang sepenuhnya. Perannya dapat berubah menjadi pelayanan pelanggan, pengawasan transaksi maupun penanganan permasalahan yang tidak dapat diselesaikan sistem otomatis.
Desainer Grafis hingga Programmer Juga Bisa Terdampak
AI tidak hanya memengaruhi pekerjaan administratif.
Kemampuan generative AI dalam menghasilkan gambar, video, teks dan kode komputer membuat pekerjaan profesional berbasis digital juga semakin terpapar.
ILO mencatat paparan AI meningkat pada beberapa profesi seperti analis keuangan, pengembang web dan multimedia, application programmer hingga penasihat investasi.
Sementara itu, laporan World Economic Forum memasukkan graphic designer sebagai salah satu pekerjaan yang diperkirakan mengalami tekanan seiring berkembangnya generative AI.
Hal tersebut tidak berarti seluruh programmer atau desainer akan digantikan AI.
Justru pekerjaan mereka dapat berubah.
Programmer misalnya dapat menggunakan AI untuk membantu membuat kode, mencari kesalahan atau membuat dokumentasi. Sementara desainer dapat memanfaatkan AI untuk menghasilkan konsep awal sebelum dikembangkan menjadi karya yang lebih matang.
Dengan demikian, pekerja yang mampu menggunakan AI berpotensi memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memanfaatkannya.
Tidak Semua Pekerjaan Mudah Digantikan AI
Pekerjaan yang membutuhkan interaksi manusia, pemahaman konteks, tanggung jawab besar serta aktivitas fisik di dunia nyata cenderung lebih sulit sepenuhnya digantikan oleh AI.
Kajian terbaru OECD menunjukkan teknologi AI saat ini relatif lebih dekat dengan pekerjaan yang melibatkan pemrosesan informasi rutin, tugas administratif dan aktivitas yang dapat dikodifikasikan.
Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan penilaian kontekstual, pemahaman interpersonal, pengambilan keputusan kompleks dan tanggung jawab memiliki kesenjangan kemampuan yang lebih besar dengan AI saat ini.
Namun kondisi tersebut juga dapat berubah seiring perkembangan robotika, computer vision dan teknologi otomatisasi lainnya.
Karena itu, hampir semua pekerja tetap perlu mengikuti perkembangan teknologi di bidang masing-masing.
AI Juga Diperkirakan Menciptakan Pekerjaan Baru
Perkembangan teknologi tidak hanya menghilangkan atau mengubah pekerjaan.
World Economic Forum memperkirakan berbagai perubahan besar dalam teknologi, ekonomi, demografi dan transisi energi dapat menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru hingga 2030, sementara sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan tergeser.
Jika proyeksi tersebut terjadi, terdapat penambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan secara global.
Profesi di bidang AI, machine learning, big data, fintech hingga pengembangan perangkat lunak termasuk kelompok pekerjaan yang diperkirakan mengalami pertumbuhan.
Namun keterampilan pekerja juga harus ikut berubah.
WEF memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan utama yang dibutuhkan pekerja akan berubah hingga 2030.
AI dan big data, jaringan dan keamanan siber serta literasi teknologi menjadi beberapa keterampilan yang pertumbuhannya paling cepat. Di sisi lain, kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas dan kolaborasi tetap dibutuhkan.
Pekerja Indonesia Diminta Bersiap
Perubahan tersebut juga mulai menjadi perhatian pemerintah Indonesia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada 28 Agustus 2026 menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi perubahan dunia kerja akibat perkembangan AI.
Menurutnya, perkembangan generative AI telah memengaruhi cara masyarakat bekerja, mengambil keputusan hingga memberikan pelayanan.
Pemerintah juga mengembangkan sejumlah program penguatan talenta AI, salah satunya melalui AI Talent Factory yang menghubungkan pengembangan keterampilan AI dengan kebutuhan nyata industri.
Komdigi dan Badan Pengelola BUMN bahkan telah menyiapkan jalur bagi lulusan program tersebut untuk terlibat dalam pengembangan solusi AI di lingkungan perusahaan BUMN.
Adaptasi Menjadi Kunci Menghadapi Era AI
Perkembangan AI pada akhirnya tidak hanya menimbulkan pertanyaan mengenai pekerjaan apa yang akan tergantikan.
Pertanyaan yang semakin penting adalah bagaimana pekerja dapat menggunakan teknologi tersebut untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Pekerjaan dengan aktivitas berulang dan mudah distandardisasi kemungkinan akan mengalami otomatisasi lebih cepat. Sementara pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, komunikasi, kemampuan mengambil keputusan dan pemahaman terhadap manusia masih memiliki peran penting.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI dapat menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan di masa depan.
AI mungkin tidak menggantikan seluruh pekerja. Namun cara manusia bekerja hampir pasti akan terus berubah.
Mereka yang mampu belajar, beradaptasi dan menggunakan teknologi sebagai alat bantu memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan di tengah transformasi dunia kerja.
Sumber:
