Banjir Nepal-Tibet Tewaskan 1.380 Orang, Lebih dari 5.500 Masih Hilang

anjir Nepal-Tibet yang menewaskan 1.380 orang pada Agustus 2026
anjir Nepal-Tibet yang menewaskan 1.380 orang pada Agustus 2026

TAKAMEDIA.COM – Bencana banjir dan longsor dahsyat yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, telah menewaskan sedikitnya 1.380 orang. Sementara itu, lebih dari 5.500 orang masih dinyatakan hilang hingga Senin (7/9/2026).

Bencana tersebut terjadi pada 26 Agustus 2026 setelah bagian dari gletser di kawasan Himalaya runtuh dan memicu aliran besar air, lumpur serta bebatuan ke wilayah di bawahnya.

Material dalam jumlah besar kemudian menyapu kawasan permukiman, jalan dan berbagai infrastruktur di sepanjang aliran sungai di perbatasan Nepal-China.

Di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung, Nepal menetapkan Senin sebagai hari berkabung nasional untuk mengenang para korban.

Bendera nasional dikibarkan setengah tiang di kantor-kantor pemerintahan Nepal serta perwakilan diplomatik negara tersebut di luar negeri.

Nepal Gelar Hari Berkabung Nasional

Hari berkabung nasional berlangsung bertepatan dengan hari ke-13 sejak bencana melanda.

Dalam tradisi Hindu, hari ke-13 merupakan bagian penting dari akhir rangkaian masa berkabung bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Namun, pemerintah Nepal tidak menggelar kegiatan resmi dalam skala besar karena operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak.

Presiden Nepal Ram Chandra Paudel juga mengunjungi kawasan yang terkena bencana untuk melihat kondisi masyarakat serta kerusakan yang terjadi.

Banjir Dipicu Runtuhnya Gletser

Bencana bermula ketika bagian dari gletser runtuh di kawasan pegunungan Himalaya dekat perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026.

Runtuhan tersebut memicu aliran besar material berupa air, lumpur, bebatuan dan puing yang bergerak menuju sungai.

Arus kemudian menerjang sejumlah kota dan desa serta menimbun jalan dan jalur transportasi di kawasan terdampak.

Bencana turut merusak berbagai fasilitas penting, termasuk sejumlah pembangkit listrik tenaga air.

Pemerintah Nepal masih melakukan kajian terhadap skala bencana dan kerusakan yang ditimbulkan.

Lebih dari 5.500 Orang Masih Hilang

Menurut laporan Reuters pada Senin, sedikitnya 1.380 orang telah meninggal dunia akibat bencana tersebut, sementara lebih dari 5.500 orang masih dinyatakan hilang.

Jumlah korban terus berubah seiring berlangsungnya pencarian, evakuasi dan proses identifikasi.

Data Pemerintah Nepal sehari sebelumnya menunjukkan sekitar 5.000 orang masih belum ditemukan di wilayah terdampak.

Pemerintah Nepal juga mengingatkan bahwa data korban dapat terus diperbarui karena operasi pencarian dan proses verifikasi masih berlangsung.

Tim penyelamat saat ini masih menyisir berbagai titik yang diduga menjadi lokasi korban terjebak.

Empat Korban Ditemukan Selamat

Di tengah besarnya jumlah korban, tim pencarian berhasil menemukan empat orang dalam kondisi hidup dalam beberapa hari terakhir.

Dua pekerja pembangkit listrik tenaga air berhasil diselamatkan dari sebuah terowongan setelah terjebak selama beberapa hari.

Seorang warga negara China kemudian ditemukan selamat dari terowongan lainnya.

Sementara itu, seorang perempuan Nepal juga berhasil dievakuasi setelah ditemukan terjebak di dalam rumah yang tertimbun material bencana.

Keberhasilan tersebut memberikan harapan bagi tim penyelamat untuk terus mencari kemungkinan adanya korban lain yang masih bertahan hidup.

Pencarian Difokuskan di Kawasan PLTA

Sejumlah pembangkit listrik tenaga air menjadi salah satu fokus utama operasi pencarian.

Otoritas Nepal menduga masih terdapat korban yang kemungkinan terjebak di dalam terowongan maupun fasilitas pembangkit.

Pemerintah mengerahkan tambahan personel dan berbagai peralatan untuk membantu proses pencarian.

Fasilitas yang menjadi perhatian antara lain Upper Trishuli 1, Upper Trishuli 3A, Upper Trishuli 3B, Chilime, Rasuwagadhi dan Langtang.

Nepal juga menerima dukungan dari berbagai negara untuk membantu operasi penyelamatan.

Malaysia, salah satunya, mengirim tim Special Malaysia Disaster Assistance and Rescue Team (SMART) beserta sembilan drone berkapasitas tinggi untuk membantu pencarian di kawasan terdampak.

Lebih dari 13.000 Orang Berhasil Diselamatkan

Di tengah besarnya skala bencana, ribuan warga telah berhasil dievakuasi.

Berdasarkan pembaruan Kementerian Luar Negeri Nepal pada 6 September 2026, sebanyak 13.104 orang berhasil diselamatkan, termasuk lebih dari 300 warga negara asing.

Penilaian awal pemerintah juga menunjukkan kerusakan yang cukup luas.

Sekitar 7.570 rumah terdampak dengan lebih dari 32.000 penduduk terkena dampaknya.

Selain itu, sekitar 55 kilometer jalan, 37 jembatan kendaraan dan 68 jembatan gantung mengalami kerusakan.

Sebanyak 13 proyek pembangkit listrik tenaga air juga dilaporkan terdampak.

Pencarian Juga Berlangsung di Tibet

Operasi pencarian tidak hanya dilakukan di Nepal.

Tim penyelamat China masih melakukan pencarian terhadap korban di wilayah Tibet yang turut terdampak bencana.

Otoritas China pada Minggu (6/9/2026) melaporkan penemuan 12 jenazah tambahan ketika operasi pencarian terhadap ratusan korban hilang masih berlangsung.

Kawasan perbatasan tersebut mengalami kerusakan besar setelah aliran lumpur dan puing menghantam wilayah lembah dan fasilitas perbatasan.

923 Narapidana Berhasil Dievakuasi

Bencana juga mengancam sebuah lembaga pemasyarakatan di Distrik Nuwakot, salah satu kawasan yang terkena dampak parah.

Sebanyak 923 narapidana berhasil dipindahkan ke sebuah bangunan di lokasi yang lebih tinggi sebelum air mencapai kompleks penjara yang berada di dataran rendah.

Sekitar 50 narapidana sempat melarikan diri setelah merusak tembok dan gerbang ketika banjir mulai datang.

Namun, mereka kemudian berhasil ditangkap kembali setelah hanya sempat bergerak sekitar 100 meter dari kompleks penjara.

Operasi Pencarian Terus Dilanjutkan

Pemerintah Nepal menegaskan operasi pencarian, penyelamatan dan identifikasi korban tetap menjadi prioritas.

Besarnya jumlah orang yang masih dinyatakan hilang membuat tim penyelamat terus bekerja di berbagai lokasi meskipun bencana telah berlangsung hampir dua pekan.

Pencarian juga semakin difokuskan pada lokasi-lokasi yang dinilai masih memungkinkan terdapat korban selamat, termasuk terowongan dan fasilitas pembangkit listrik.

Bencana yang melanda kawasan Nepal-Tibet tersebut menjadi salah satu bencana paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir.

Sumber: Reuters, Kementerian Luar Negeri Nepal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *