Viral! Harga Pertalite Subsidi Lebih Mahal dari Pertamax, Pertamina Buka Suara

Isu mengenai Harga Pertalite Subsidi Lebih Mahal dari Pertamax tengah menjadi sorotan publik setelah sebuah struk pembelian BBM di SPBU Pertamina viral di media sosial. Struk tersebut menampilkan angka harga Pertalite sebelum subsidi mencapai Rp18.040 per liter.
Temuan ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak yang mempertanyakan bagaimana mungkin Pertalite yang merupakan BBM subsidi justru terlihat lebih mahal dibanding Pertamax yang merupakan BBM non-subsidi.
Dalam struk yang beredar, harga jual Pertalite tercatat Rp10.000 per liter setelah mendapat subsidi pemerintah sebesar Rp8.040 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax pada periode yang sama tercatat berada di angka Rp16.250 per liter.
Perbandingan inilah yang kemudian memunculkan berbagai spekulasi dan menimbulkan pertanyaan mengenai logika kebijakan subsidi BBM di Indonesia.
Video Harga Pertalite Lebih Mahal dari Pertamax
Video viral itu memperlihatkan nota pembelian Pertalite dari SPBU dengan rincian:
- Harga sebelum subsidi: Rp18.040 per liter
- Subsidi pemerintah: Rp8.040 per liter
- Harga jual: Rp10.000 per liter
Sementara pada struk lain untuk Pertamax tertulis harga jualnya sebesar:
- Pertamax: Rp16.250 per liter
Dari data tersebut, pembuat video menyimpulkan bahwa harga dasar Pertalite justru lebih mahal dibandingkan Pertamax.
Narasi ini kemudian ramai diperbincangkan warganet karena dianggap menunjukkan adanya kejanggalan dalam sistem subsidi BBM.
Benarkah.??
Harga Pertalite Subsidi Lebih Mahal dari Pertamax?
Video tersebut menyoroti perbandingan harga Pertalite sebelum subsidi sebesar Rp18.040 per liter dengan harga jual Pertamax sebesar Rp16.250 per liter.
Hal ini memicu pertanyaan publik. Banyak yang bingung, bagaimana mungkin Pertalite yang dikenal memiliki kualitas bahan bakar di bawah Pertamax justru terlihat lebih mahal.
Sekilas, perbandingan tersebut memang tampak janggal.
Kebingungan publik cukup beralasan. Sebab secara sederhana, banyak yang melihat bahwa Pertamax memiliki kualitas bahan bakar lebih baik namun harganya justru terlihat lebih rendah dibandingkan harga Pertalite sebelum subsidi.
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami.
Angka Rp18.040 per liter pada Pertalite bukan harga jual yang dibayar konsumen di SPBU, melainkan harga sebelum subsidi atau harga yang dihitung berdasarkan mekanisme pasar.
Sementara angka Rp16.250 per liter pada Pertamax merupakan harga jual eceran yang dibayar langsung oleh konsumen.
Artinya, angka yang dibandingkan dalam video berasal dari dua komponen harga yang berbeda.
Pertalite atau Pertamax, Mana yang Lebih Baik?
Selain soal harga, perdebatan mengenai Pertalite dan Pertamax juga menyoroti perbedaan kualitas kedua jenis BBM tersebut.
Secara umum, Pertamax dikenal memiliki kualitas bahan bakar yang lebih baik dibandingkan Pertalite.
Pertalite memiliki kadar oktan (RON) 90, sedangkan Pertamax memiliki kadar oktan (RON) 92.
Secara sederhana, semakin tinggi angka oktan, semakin baik bahan bakar dalam mendukung proses pembakaran mesin.
Karena itu, Pertamax umumnya dinilai lebih unggul untuk kendaraan dengan spesifikasi mesin modern atau kendaraan yang membutuhkan bahan bakar dengan kualitas lebih tinggi.
Beberapa keunggulan Pertamax dibandingkan Pertalite antara lain:
- Proses pembakaran mesin lebih optimal
- Performa kendaraan lebih stabil
- Lebih cocok untuk mesin modern
- Emisi gas buang cenderung lebih rendah
Meski demikian, bukan berarti Pertalite adalah pilihan yang buruk.
Pertalite tetap menjadi BBM yang banyak digunakan masyarakat karena harganya lebih terjangkau dan masih sesuai untuk banyak kendaraan harian.
Mengapa Pertalite yang Disubsidi?
Pertanyaan terbesar yang muncul dari publik adalah, jika harga Pertalite sebelum subsidi terlihat lebih mahal dari Pertamax, mengapa pemerintah justru mensubsidi Pertalite?
Inilah yang menjadi keresahan banyak masyarakat.
Secara hitungan sederhana, logika publik memang masuk akal. Jika mengacu pada angka yang beredar:
- Harga Pertalite sebelum subsidi: Rp18.040/liter
- Harga Pertamax: Rp16.250/liter
Lalu jika keduanya sama-sama diberikan subsidi sebesar Rp8.040 per liter, hasilnya akan terlihat seperti ini:
- Pertalite: Rp18.040 – Rp8.040 = Rp10.000/liter
- Pertamax: Rp16.250 – Rp8.040 = Rp8.210/liter
Secara perhitungan sederhana, Pertamax memang terlihat bisa menjadi lebih murah dibanding Pertalite jika mendapat subsidi yang sama.
Di sinilah muncul pertanyaan publik:
Mengapa pemerintah tidak mensubsidi Pertamax saja, padahal kualitasnya lebih baik dan secara hitungan terlihat lebih murah?
Namun, kebijakan subsidi BBM tidak ditentukan hanya dari hitungan harga per liter.
Pemerintah lebih mempertimbangkan BBM mana yang paling banyak digunakan masyarakat dan paling besar dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Pertalite digunakan oleh jutaan kendaraan setiap hari, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga kendaraan operasional.
Jika harga Pertalite naik mengikuti harga pasar, dampaknya bisa langsung terasa pada pengeluaran masyarakat luas.
Kenaikan harga tersebut juga dapat memicu naiknya biaya transportasi, distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok.
Sementara itu, Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang umumnya digunakan oleh kelompok konsumen dengan daya beli yang relatif lebih tinggi.
Karena itu, subsidi difokuskan pada Pertalite untuk menjaga daya beli masyarakat dan menekan inflasi.
Pertamina Buka Suara Soal Harga BBM
Menanggapi viralnya video tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M.V. Dumatubun menjelaskan bahwa angka Rp18.040 per liter yang tercantum dalam struk Pertalite merupakan harga keekonomian, bukan harga jual yang dibayar masyarakat di SPBU.
“Program subsidi BBM adalah kewenangan dan ditentukan oleh pemerintah. Subsidi diberikan pada Pertalite, dan Pertamina sebagai operator patuh kepada kebijakan pemerintah,” ujar Roberth, Minggu (14/6/2026).
Saat ini, konsumen hanya membayar Rp10.000 per liter untuk Pertalite. Sementara selisih sekitar Rp8.040 per liter ditanggung pemerintah melalui subsidi atau kompensasi.
Inilah yang membuat harga Pertalite sebelum subsidi terlihat lebih tinggi dibandingkan harga jual Pertamax yang saat ini berada di angka Rp16.250 per liter.
Namun, Pertamina juga menegaskan bahwa harga Pertamax saat ini belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomian atau harga pasar penuh.
Artinya, harga jual Pertamax yang berlaku di SPBU saat ini masih mempertimbangkan berbagai faktor di luar mekanisme pasar murni.
Menurut Pertamina, apabila Pertamax dijual sepenuhnya mengikuti harga pasar, maka harganya disebut bisa lebih tinggi dibandingkan harga Pertalite sebelum subsidi.
Penetapan harga BBM sendiri tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas bahan bakar, tetapi juga oleh berbagai faktor lain, seperti:
- Harga minyak mentah dunia
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
- Biaya pengolahan
- Biaya distribusi
- Kondisi ekonomi nasional
- Daya beli masyarakat
- Kebijakan pemerintah
Karena itu, kebijakan harga BBM tidak semata-mata ditentukan dari mana produk yang terlihat lebih mahal atau lebih murah, tetapi juga berdasarkan kondisi ekonomi dan target penerima manfaat.
Kesimpulan
Isu Harga Pertalite Subsidi Lebih Mahal dari Pertamax memang memicu perdebatan luas di media sosial.
Sekilas, kondisi ini terlihat janggal karena BBM dengan kualitas di bawah Pertamax justru tampak memiliki harga sebelum subsidi yang lebih tinggi.
Keresahan masyarakat pun cukup beralasan, terutama ketika melihat bahwa Pertamax memiliki kualitas lebih baik namun secara angka terlihat lebih murah.
Namun, perbandingan dalam video tersebut belum sepenuhnya setara karena membandingkan dua komponen harga yang berbeda, yakni harga Pertalite sebelum subsidi dan harga jual Pertamax.
Di sisi lain, kebingungan publik juga menunjukkan masih banyak pertanyaan mengenai transparansi perhitungan harga BBM di Indonesia.
Karena itu, selain memahami komponen harga BBM secara utuh, keterbukaan informasi terkait pembentukan harga BBM juga menjadi hal penting agar tidak memunculkan salah persepsi di masyarakat.
Bagaimana menurut kalian.??
